Posted in :)

Terima Kasih Sudah Berkunjung Malam Ini

Kau masih berpakaian kantor petang itu saat kau menjemputku. Kemeja putih celana hitam seperti PNS di setiap hari Rabu. Lengan kemeja kau gulung sesiku. Dengan tangan masuk di kedua saku.

Sumringah yang kutahan ini barangkali mampu kau baca: betapa aku sangat menanti-nanti kau di malam itu. Sebagai jawaban atas sesal sebab kedua lenganmu yang ramah itu tak kusambut empat tahun lalu, di depan panggung, kala sebuah band post-rock menampilkan sebuah lagu.

Kita berjalan kaki di temaram kota ini. Kau genggam tanganku, mendekap aku, dan sesekali kecupan di kening, pipi, dan ujung bibir. Aku berdebar-debar saban malam, beginikah rasanya tak ada lagi jarak seperti dulu?

Kau indah sekali malam ini.

Indah sekali.

Terima kasih sudah berkunjung.

Meski dalam mimpi.

Posted in :)

Pulang?

Malam ini akan menyenangkan

Tidak ada orang di rumah selama akhir pekan

Kecuali aku yang sedang senyum-senyum di depan kaca, berdandan

Menanti-nanti meninggalkan rumah pukul sembilan

Tidak akan ada pesan “pulang sekarang!” pada pukul sebelas malam

Kecuali “pulang sekarang?” yang ditanyakan tali yang menjuntai di langit-langit ruangan

Malam ini akan menenangkan?

241222

Posted in :)

Biar Apa?

Orang-orang sepertinya gemar sekali meniru senyummu

Atau kau kah yang menitipkan senyum-senyum itu pada mereka, lalu disampaikannya satu per satu dari waktu ke waktu?

Kau tampaknya mengira titipan-titipan itu mampu meluruhkan rindu

Mengapa kau masih tak memahami aku?

Alih-alih memangkas jarak, ia kini kian selebu

Lalu harus kuapakan senyum-senyum itu?

Menangkapnya dan menyimpannya ke dalam saku?

Kubawa pulang dan kupajang di seluruh dinding kamarku?

Agar kau bisa membuatku susah hati tak habis-habis?

Posted in :)

Seharusnya Begitu

Aku berharap kita tak terlalu menderita

Kata Yijin pada Heedo saat mereka memutuskan untuk menyelesaikan apa-apa yang terjadi di antara mereka.

Itu adalah adegan favoritku dari semua episode yang kutonton.

Barangkali karena itu. Karena tidak satupun dari kita mengucapkan itu saat kita berpisah. Aku tidak tahu apakah kau menderita. Yang kutahu, salah satu dari kita mengalaminya.

Tetapi, aku berharap dan yakin saja bahwa kau tidak demikian. Kalau itu terjadi, maka aku akan kembali menyalahkan diri. Itulah penderitaan.

Aku selalu mendoakanmu, sebelum dan setelah perpisahan mendatangi kita.

Aku selalu mendoakan kebahagiaanmu, senantiasa sampai seterusnya.

Posted in :)

Seperti Caramu

Aku benci ditatap lamat-lamat. Dari jauh, dari dekat. Sama saja.

Kecuali itu kau.

Tiga hari lalu aku duduk di dermaga. Mencatat pengalaman mataku merekam ingatan.

Aku menoleh ke kiri sebab sedari tadi seseorang duduk di sana menghadap aku.

Dia menatapku.

Esok sorenya aku duduk di dermaga. Mencetak pengalaman mataku merekam ingatan.

Aku menoleh ke kiri sebab sedari tadi seseorang duduk di sana menghadap aku.

Dia menatapku.

Kemarin aku duduk di dermaga. Memutar ulang pengalaman mataku merekam ingatan.

Aku menoleh ke kiri sebab sedari tadi seseorang duduk di sana menghadap aku.

Dia menatapku.

Sore ini aku duduk di dermaga. Merekam pengalaman mataku. Aku menoleh ke kiri sebab sedari tadi seseorang duduk di sana menghadap aku. Dia menarik kedua ujung bibirnya. Deretan giginya yang kecil-kecil dan rapi seolah memperlihatkan hal yang tak asing.

Aku tidak membencinya. Di sana ada senyummu yang dibawanya untukku.

Dabo Singkep, 8 November 2022

Posted in :)

Tunggu Aku di …-mu

Kau lihai sekali menuturkan hal-hal yang kau sukai. Lihai seperti namamu. Aku menikmati betul apa saja yang kau lontarkan malam itu. Ditambah latar derai gerimis, lengkap sudah temu singkat yang masih selalu kuputar kembali di kepalaku.

Aku tidak tahu apa yang sebenarnya aku nikmati malam itu. Tentang hal-hal yang kau sukai atau caramu mentransfer energi dari cerita-cerita itu? Atau sesederhana aku memang selalu menyukai apapun yang keluar dari mulutmu, isi kepalamu atau segala dimensi di dirimu?

Aku tidak tahu apakah ada orang lain yang mampu menikmati kuliah singkat tentang hal-hal yang kau sukai itu. Adakah orang seperti aku yang mendengarkanmu dengan saksama meski aku sama sekali tidak tahu menahu tentang hal-hal yang kau sukai itu?

Aku tidak tahu apakah di cerita tentang hal-hal yang kau sukai itu akan ada aku kau sebut suatu saat nanti.

Aku tidak tahu bagaimana caranya menyelesaikan perpisahan yang kau tutup dengan “sampai ketemu di Jakarta, ya, Ra”

Yang aku tahu, aku memutar lagu Sheila On 7 setiap malam sejak punggungmu menghilang di tepi jalan malam itu.

Tunggulah aku di Jakartamu

Tempat labuhan semua mimpiku

Tunggulah aku di kota itu

Tempat labuhan semua mimpiku

Posted in :)

Nyata Begitu

Tidak ada kejadian yang berarti ketika pada suatu malam kau berkunjung ke dalam mimpi

Namun, kemampuan menghadirkanmu dalam imaji sepertinya makin kuat dari hari ke hari

Aku mampu merasakanmu malam itu. Rasanya nyata begitu.

Tadi, tiba-tiba aku mengulang-ulang adegan kau bercakap-cakap di kepalaku.

Kukumpulkan ingatan-ingatan di tahun-tahun lampau.

Memutar kembali tutur-tuturmu yang lembut itu.

Bunyi kata per kata yang keluar dari mulutmu menjadi begitu candu.

Pandai meredakan rajuk dan sendu. Kau masih seperti itu. Selalu.

Posted in :)

Since 2013 and Still Counting

Selasa. Aku akan ke sana. Kalimat itu menghampiri layar kunci ponselku pada suatu sore di bulan Juli.

Aku terbelalak. (Aku menirukan ekspresi itu sekarang). Bangkit duduk dari kasur, segera menutup mulut agar suara kegiranganku meredam.

Sudah lama sekali, ya. Bertahun-tahun yang lalu. Saking lamanya aku bahkan lupa kapan terakhir kali kita bertemu.

Aku tinggal jauh dari kota, sekitar dua setengah jam jarak tempuh. Katamu, mari bertemu kalau aku sempat. Kau bercanda? Aku menarik kata-kataku tadi, dua jam tidak ada apa-apanya agar bisa melihatmu lagi.

Malam itu kita bertemu di kedai kopi dan tidak ada satupun di antara kita yang memesan kopi. Es cokelat dan mocktail beserta cheesecake yang tak akan kupesan lagi di kemudian hari

Malam itu hujan deras, lalu merintik sesaat setelah kita duduk. Seolah mafhum kita hanya akan bertemu sebentar dan suara deras tidak cocok dengan suasana itu. Rintik seperti memainkan melodi yang berbeda, mengiringi kita malam itu, dan berkata “selamat menikmati perjumpaan kembali, kalian”

Jambi, 30 September 2022

Posted in :)

Kau Bukan Tato

satu-satunya bekas luka yang paling dinanti adalah luka tato

Maka berhentilah meninggalkan luka

kau bukan tato

satu-satunya luka yang patut dirawat adalah tato

maka berhentilah mendikteku merawat luka

kau bukan tato

Posted in :)

Tidak Lucu

Kau kah yang bercanda terlalu?

atau aku yang tak pandai melucu?

Temu menjadi sesuatu asing bagi kita. Rindu adalah kesibukan yang memabukkan di tahun-tahun yang penuh mala. Sedang kau hanya sesekali bertanya perihal tato baruku lewat dunia maya.

Nampaknya alam sedang berkelakar. Ia seperti pemain bola yang sedang bermain sulap. Dan kita adalah dua bola yang digiringnya sekaligus. Lalu dipertemukan di dalam gawang yang lebih cocok disebut jebakan.

Di dalam jebakan ini, kau rentangkan kedua lengan, masing-masing sejauh 45 derajat dari pinggangmu. Tidak penuh, tapi pasti dalam menyambut aku. Apa kau sedang bergurau? Bagaimana jika aku benar-benar mendarat di dadamu?

Kau kah yang bercanda terlalu?

Atau aku yang tak pandai melucu?

Posted in :)

Bebal #2

Aku pernah mendengar entah di mana

Bahwa dua orang ditakdirkan bersama ketika jantungnya berdetak seirama

Harusnya aku pergi saja sejak itu

Begitu tahu aturan mainnya

Saat kurapatkan telingaku di dada kirimu

Dan kutempelkan telapak tanganku di dada kiriku

Posted in :)

Enak Saja

Sesungguhnya saya tidak pernah benar-benar mencintaimu. Saya hanya mencintai diri saya sendiri melalui kamu.

Lalu mengapa saya patut disalahkan atas pedih hatimu, bukankah kamu menyakiti dirimu sendiri melalui saya? Tanyamu.

Tentu saja, bangsat! Sebab kita bekerja sama melakukannya.

Posted in :)

Bagaimana?

Saya tak ingin menjanjikan apa-apa

Tak saya janjikan kau hunian di dalam dada

Saya masih mencintai diri sendiri

Tak saya janjikan kau betah dalam kepala

Di sana banyak kesibukan yang tak sederhana

Kau masuk sajalah ke dalam jiwa

Akan kau kuasai segala saya

Posted in :)

Cinta – Makan

“Apakah ada yang lebih penting dari makan? Cinta”, aku mendengar itu dari film serial yang kutonton kemarin.

Aku setuju. Kau begitu peduli dengan perutmu sementara aku tidak makan dan tidur demi tetap berada sisimu saat itu. Aku begitu mencintaimu, sementara kau tidak.

Posted in :)

Benar, kah?

Apa kau menjelma jadi hantu air lagi, Sayangku?

Timbul tenggelam sesuka hati tanpa kabar tanpa undangan.

Meninggalkan jejak yang cukup dalam

Aku berdebar-debar saban hari

padahal kau hanya bertandang ke alam mimpi

Dengan mesra mendekap aku dan bergantian mengusap rambut lalu pipi

Tapi mengapa selalu begitu, datang hanya untuk sebuah ucapan selamat tinggal? Apa kau menyesal tak pernah sempat benar-benar mengucapkannya dengan layak ketika dulu?

Posted in :)

Bagaimana bisa kau mengajak aku hidup bersama lewat mimpi? Kau pernah berjanji hal yang sama dan pada akhirnya kata-kata di dunia nyata tetap menjelma mimpi belaka

Posted in :)

Jika kau merasa dicintai oleh seseorang yang selalu datang atau memberi banyak hal untukmu, maka kau harus tahu bahwa ada seseorang mencintaimu sungguh dalam: yang dengan gila menahan diri tidak melakukannya sebab takut akan memperpanjang jarak yang telah kau buat