Posted in :)

Kau Bukan Tato

satu-satunya bekas luka yang paling dinanti adalah luka tato

Maka berhentilah meninggalkan luka

kau bukan tato

satu-satunya luka yang patut dirawat adalah tato

maka berhentilah mendikteku merawat luka

kau bukan tato

Posted in :)

Tidak Lucu

Kau kah yang bercanda terlalu?

atau aku yang tak pandai melucu?

Temu menjadi sesuatu asing bagi kita. Rindu adalah kesibukan yang memabukkan di tahun-tahun yang penuh mala. Sedang kau hanya sesekali bertanya perihal tato baruku lewat dunia maya.

Nampaknya alam sedang berkelakar. Ia seperti pemain bola yang sedang bermain sulap. Dan kita adalah dua bola yang digiringnya sekaligus. Lalu dipertemukan di dalam gawang yang lebih cocok disebut jebakan.

Di dalam jebakan ini, kau rentangkan kedua lengan, masing-masing sejauh 45 derajat dari pinggangmu. Tidak penuh, tapi pasti dalam menyambut aku. Apa kau sedang bergurau? Bagaimana jika aku benar-benar mendarat di dadamu?

Kau kah yang bercanda terlalu?

Atau aku yang tak pandai melucu?

Posted in :)

Bebal #2

Aku pernah mendengar entah di mana

Bahwa dua orang ditakdirkan bersama ketika jantungnya berdetak seirama

Harusnya aku pergi saja sejak itu

Begitu tahu aturan mainnya

Saat kurapatkan telingaku di dada kirimu

Dan kutempelkan telapak tanganku di dada kiriku

Posted in :)

Enak Saja

Sesungguhnya saya tidak pernah benar-benar mencintaimu. Saya hanya mencintai diri saya sendiri melalui kamu.

Lalu mengapa saya patut disalahkan atas pedih hatimu, bukankah kamu menyakiti dirimu sendiri melalui saya? Tanyamu.

Tentu saja, bangsat! Sebab kita bekerja sama melakukannya.

Posted in :)

Bagaimana?

Saya tak ingin menjanjikan apa-apa

Tak saya janjikan kau hunian di dalam dada

Saya masih mencintai diri sendiri

Tak saya janjikan kau betah dalam kepala

Di sana banyak kesibukan yang tak sederhana

Kau masuk sajalah ke dalam jiwa

Akan kau kuasai segala saya

Posted in :)

Cinta – Makan

“Apakah ada yang lebih penting dari makan? Cinta”, aku mendengar itu dari film serial yang kutonton kemarin.

Aku setuju. Kau begitu peduli dengan perutmu sementara aku tidak makan dan tidur demi tetap berada sisimu saat itu. Aku begitu mencintaimu, sementara kau tidak.

Posted in :)

Benar, kah?

Apa kau menjelma jadi hantu air lagi, Sayangku?

Timbul tenggelam sesuka hati tanpa kabar tanpa undangan.

Meninggalkan jejak yang cukup dalam

Aku berdebar-debar saban hari

padahal kau hanya bertandang ke alam mimpi

Dengan mesra mendekap aku dan bergantian mengusap rambut lalu pipi

Tapi mengapa selalu begitu, datang hanya untuk sebuah ucapan selamat tinggal? Apa kau menyesal tak pernah sempat benar-benar mengucapkannya dengan layak ketika dulu?

Posted in :)

Bagaimana bisa kau mengajak aku hidup bersama lewat mimpi? Kau pernah berjanji hal yang sama dan pada akhirnya kata-kata di dunia nyata tetap menjelma mimpi belaka

Posted in :)

Jika kau merasa dicintai oleh seseorang yang selalu datang atau memberi banyak hal untukmu, maka kau harus tahu bahwa ada seseorang mencintaimu sungguh dalam: yang dengan gila menahan diri tidak melakukannya sebab takut akan memperpanjang jarak yang telah kau buat

Posted in :)

Menunggu Puisi Dari Penyair Yang Dirindui

kita tidak lebih dari anjing-anjing yang bersahut lolongan di malam hari

tidak begitu saling peduli

sebab yang kita cari hanyalah nasi

atau sesekali menunggu puisi dari penyair yang kita rindui

kita kerap kali dikerjai oleh kabut sore

agar kita lalai untuk menatap satu sama lain

padahal jarak kita hanya selisih tujuh senti

tapi sekali lagi kita tidak begitu peduli

sebab yang kita cari adalah kekasih yang menunggu puisi dari penyair yang ia rindui

kita menutup telinga dari bunyi-bunyi kebohongan yang menguap lewat udara pagi

dengan memasang alat pendengar di mana segala melodi malih menjadi elegi

kita kini adalah anjing yang menjilati luka sendiri

sebab kekasih yang menunggu puisi dari penyair yang ia rindui telah mati.

Posted in :)

Residu

Mereka fasih mengeja kita

Potret yang kutanggalkan

Dan kenang yang kautinggalkan

Pada bau yang tabah menghuni kursi itu

Bau tengkukmu

Juga pewangi pakaian dari jasa penatu

Malam ini

Masih ada ingatan yang harusnya kita seduh

Sebab lusa barangkali ia mala

Mereka fasih mengeja kita

Lantas aku tak pandai membaca

Kau tulis ingatan

yang kerap kau terjemahkan sebagai residu

Posted in :)

Firasat?

Sudah sebulan ini kadar memikirkan ayahmu dan kamu sama banyaknya. Dua bulan terakhir memang kondisi ayahmu berubah drastis. Melemah. Januari lalu, ayahmu masih bisa mondar-mandir di acara keluarga. Masih bisa memasak mie instan sendiri di dapur. Duduk-duduk sepanjang hari dengan segelas kopi hitam dan kreteknya. Masih begadang bermain kartu bersama ibumu, adikmu, dan aku-mu.

Dua bulan setelah itu, dia tidak lagi sesegar dulu. Setiap kali aku berkunjung ke rumahmu, ayahmu lebih sering tidur di kamarnya atau sekadar berbaring di depan televisi. Dia masih minum kopi dan makan mie instan, walau tidak lagi dibuat oleh tangannya sendiri.

Sejak itu aku kerap khawatir mengenai kesehatannya. Dan aku benci kekhawatiran ini kadang membawa pikiran yang tidak-tidak secara tiba-tiba. Aku sungguh susah menampiknya. Kadang aku bertanya-tanya sampai kapan ayahmu akan menahan derita sakitnya. Ini kedengaran tidak sopan memang, tapi inilah pikiran yang kerap kali singgah di luar kendaliku selama satu bulan belakangan.

*

13.20. Satu panggilan tak terjawab: Senna. Barangkali dia ingin mengajak ngopi siang di warkop (kebiasaan Senna mengajak teman untuk ngopi siang saat akhir pekan). Aku masih berusaha mengumpulkan nyawa sejak satu jam yang lalu aku terbangun. Aku langsung beranjak, mengambil air wudhu. Menunda salat lebih lama tidak baik di bulan puasa, pikirku.

Ah ya, bulan puasa, dan aku masih berpikir Senna menelpon karena ajakan ngopi. Nyawaku belum terkumpul.

Selesai wudhu, aku membuka pesan pribadi di Line. Aku sangat jarang membuka aplikasi perpesanan jika bukan karena pemberitahuan pesan pribadi. Saat menutup obrolan itu, di bagian teratas masuk notifikasi pesan grup yang tampilannya bertuliskan kalimat belasungkawa yang menandai namamu. Aku sesegera mungkin membuka obrolan grup. Benar saja. Aku gemetar. Lemas. Aku tahu mengapa Senna menelepon.

Aku menguatkan diri untuk menunaikan salat zuhur. Pikiranku tidak karuan, salatku tidak khusyuk tentu saja. Tangisku pecah.

Selesai salat, aku buru-buru menelepon Senna, menanyakan keberadaannya, lalu sesegera mungkin menjemputnya dan menuju ke rumahmu.

Kamu, yang pertama kali mataku tuju, sedang merapikan kursi-kursi di bawah tenda yang siap diduduki para pelayat. Aku tidak berani menatap wajahmu. Tanpa sapa, aku, juga Senna, masuk ke rumahmu begitu saja. Setelah bersalaman dengan keluarga, kami duduk di samping almarhum, meraih buku yasin yang sudah tersedia di sana.

Tangisku kembali pecah, aku benar-benar tidak bisa menahannya. Aku hanya bisa menahan agar tidak bersuara, lantas sesenggukan dan gemetar. Aku merasa tulang-tulangku kelu. Tanganku tidak cukup berdaya membalik halaman buku. Saking lemasnya aku sulit beranjak dari tempat dudukku. Kuputuskan membaca yasin berulang kali, menghabiskan segala doa yang tertera di sana, hingga sore tiba. Jika bukan karena jenazah almarhum ingin dimandikan, aku mungkin akan tetap duduk di situ.

Proses pemakaman berlangsung tidak lama. Dari kejauhan, aku melihatmu termangu di depan pusara ayahmu. Tertunduk entah apa pikiranmu.

Petang menjelang. Aku pulang setelah memeluk ibu dan adikmu. Senja itu kututup dengan mengirimkan salat hadiah untuk ayahmu, dan mengirimkan pesan pada teman-temanku untuk melakukan hal yang sama malam ini. Berharap almarhum tidak begitu bersedih dan kesepian di malam pertama ia dikuburkan.

Tidak ada kalimat perpisahan yang benar-benar layak terucap pada ayahmu. Paling tidak obrolan ringan seperti yang dulu kami lakukan. Terakhir kali kami bertemupun tidak ada waktu yang kami habiskan barang sejenak untuk berbincang. Pagi itu ketika aku bertandang ke rumahmu, ayahmu sedang tidur di kamarmu. Hari itu aku memang hanya mampir, menjemput adikmu untuk menghadiri pernikahan teman. Sepulangku dari acara, aku harus langsung pulang, ayahku juga sakit. Saat pamit ayahmu bilang “Kamu besok saja pulangnya, kenapa buru-buru sekali?”. Itu adalah kalimat terakhir yang ia lontarkan untukku.

*

“Ini permintaan terakhir ayah, bu. Ayah ingin Dali dan Hera bersama”

“Ibu akan bicara pada Hera”

“Tapi, Dali tidak menginginkan saya, bu. Mengapa Dali tidak membawa perempuan yang dia inginkan dan meyakinkannya pada ayah?”

“Hera, kamu mau bantu saya memenuhi permintaan ayah?”

“Bagaimana kalau kita berpura-pura saja. Saya tidak ingin kamu terluka. Saya tahu kamu tidak menginginkan ini”.

“Tapi bagaimana kalau bapak sembuh? Sampai kapan kita pura-pura?”

Kamu harus tahu, betapa sulitnya aku berkata iya pada hal yang sungguh aku inginkan. Ini harusnya mudah saja, tapi kamu juga harus tahu, kebahagiaanku tergantung pada kebahagiaanmu.

Selama tiga hari berturut-turut aku memimpikan adegan ini. Di hari ketiga aku terbangun pukul 12.24 dan terdiam selama satu jam merenungi mimpi yang sama yang kudapati selama tiga hari ini. Hingga aku tidak lagi menyadari Senna menelepon dua kali dan tak kujawab. Hari yang kusadari, bahwa malam itu, pada Januari lalu, adalah pertama dan terakhir kalinya kami begadang bermain kartu bersama di depan televisi. “Ah, tidak usah pakai helm, berat, nanti sakit kepala”, kata ayahmu ketika aku mengingatkan bahwa hukuman—yang ditawarkan oleh ibumu—bagi yang kalah adalah memakai helm selama satu putaran.

Selamat jalan, ayah. Semoga engkau mendapatkan syafaat. Amin, ya Ilahi.

Posted in :)

Unfinished Story (2)

13 pesan baru, 7 panggilan tak terjawab. Aku lupa, nada dering handphone ku mati sejak di restoran tadi. Entah kenapa aku tidak ingin di ganggu siang ini. Zulfy terlalu asik kuperhatikan mungkin.

“Awan, aku rindu. Besok aku pulang, cuma sehari mungkin. Makan malam di tempat biasa, ya?”

Rasa rindunya mungkin tak terbendung lagi, pun rinduku. Namun, ada yang lain. Rinduku dingin.

Senja telah terbenam, berakhir. Malam menunggunya menyiksa. Seperti tak sabar melihatnya kedinginan dalam pelukan rindunya.

Aku? Manusia egois merasa paling tidak berdosa, berjalan menjauh meninggalkan luka dalam yang dingin untuknya.

Perasaan yang sudah tak tentu memang menyiksa kenyataan, membalikkan seluruh semesta, dan meminta tumbal. Dialah Senja, sosok yang harus ku korbankan, demi rasa yang tak tentu. (ianriswanto)

***

Malam itu kami berdebat. Perihal siapa yang menjadi tidak peduli, siapa yang paling sibuk, dan enggan untuk mengabari. Aku tidak tahu mengapa aku menjadi sedingin ini. Barangkali berbulan-bulan kami tak begini. Berdiskusi soal aktifitas masing-masing hingga hari berganti dan kami khilaf menenggak bergelas-gelas kopi.

Senja masih terpaku di hadapanku, aku tahu dia sedang menangis, paling tidak kaca bening yang membentuk di mata tipisnya sedikit lagi pecah. Dia bukan tipikal orang yang suka bermain ponsel saat bertemu dengan orang-orang. Untuk pertama kalinya dia menggapai ponsel dan menenggelamkan tunduknya pada layar yang tak jelas untuk apa ia dinyalakan. Aku tahu, dia menyembunyikannya.

“Bisa kita pulang sekarang? Aku mau diantar sama kamu, naik motor”. Aku membereskan barang-barangku, mengiyakan pintanya. Aku menuju bar, meminjam motor Giran—barista di coffeeshopku.

Senja memelukku dari belakang. Sangat erat. Disandarkannya wajahnya pada punggungku. Aku merasakan ada yang basah menembus T-Shirtk-u.

Kami tiba di depan rumahnya. Senja masih tak bergeming. Masih dengan ikatan lengannya yang begitu erat di tubuhku. Aku melepasnya lembut, menggenggam tangannya, mengantarnya menuju beranda rumah. Genggamannya erat sekali. Dia tahu.

Senja tahu. Malam itu adalah malam terakhir untuk kami. Untuk pertama dan terakhir kali Senja memelukku. Peluk yang tak pernah kurasa seerat itu. Senja tahu malam itu tidurnya akan diantar sepi: pelukku yang begitu dingin.

Posted in :)

Unfinished Story (1)

Prolog

“Maaf, kak”

Katanya yang selalu terulang tiap titik mata bertemu. Bibirku tertungkup rapat menahan kata, gigi gemeletuk menahan emosi, mata menutup rapat membendung air mata. Sudah kesekian kali kejadian ini terulang, sudah kesekian kali pun kami berhasil menjalin kembali keinginan. Namun, nihil. Kali ini aku tidak mampu membendung kata, pun air mata. Kehadiranku sebatas penyemangat saat dia jatuh dalam kenangan pahit masa lalunya. Ketika waktu menyuruhnya merindukan kenangan indahnya, saat itulah dia terbawa arus perasaan yang masih dia jaga. Bukan sekali dua kali, entah sudah berapa kali. Aku? Hanya bisa jatuh tertunduk, seperti tentara yang di taklukkan lawan dalam perang, tapi tidak dibunuh. (ianriswanto)

***

Senja memang tabah. Seluruh dunia juga tahu. Aku menyayanginya. Seluruh dunia juga tahu. Sayangnya padaku juga tak kalah. Seluruh dunia juga tahu. Jarak antara kami begitu menganga. Kami sama-sama tahu.

Senja sibuk menyambangi daerah demi daerah, memenuhi dahaga filantropisnya. Dia adalah pengajar volunteer untuk anak-anak yang tak bersekolah di daerah-daerah pelosok Sulawesi.

Sedangkan aku, editor zine indie yang kadang-kadang punya double job sebagai jurnalis amatir. Mencari berita tanpa pengaruh penguasa memang menguras waktu dan tenaga.

Bagi Senja, aku makin pagi. Pagi yang berjarak jauh dari senja. Dan bagiku, Senja makin senja, begitu cepat tenggelam menjelang malam.

“Selamat pagi, Awan! Jangan lupa tidur. Haha. Saya rindu, eh saya Senja :p”, aku sesekali merindukan pesan singkat dari Senja. Pesan-pesan yang tak pernah meluputkan senyum pada pagiku. Pesan-pesan pengantar mimpi indahku yang selalu dipenuhi senja. Dia.

Posted in :)

Mencuri Baumu

‪Semalam, tanpa izin, aku membawa pulang sehelai baju yang tergantung di balik pintu kamarmu.‬
‪Akan kulilit ia pada guling, dan kudekap sampai bau tubuhmu hilang.‬

‪Aku ingin tidur nyenyak malam ini.‬
‪Aku akan terus melakukannya, sebab perihal memberi pelukan, kau tidaklah dermawan.